Semarang, 10/3 (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah siap melakukan terobosan dalam peningkatan kualitas jalan raya di provinsi ini dengan teknologi Geogrit.

Kepala Dinas Bina Marga Jawa Tengah Danang Admojo, di Semarang, Rabu, mengatakan, teknologi baru pengaspalan jalan dengan sistem Geogrit telah diperkenalkan untuk diterapkan di wilayah ini.

Menurut dia, penghematan dengan sistem baru yang sudah diterapkan di Malaysia ini diperkirakan mampu menekan biaya produksi antara 20 hingga 40 persen di banding pengaspalan konvensional.

Ia menuturkan, sistem ini sesuai dengan kondisi tanah lempung di Jawa Tengah, khususnya di kawasan selatan.

"Sistem Geogrit cocok untuk jalan dengan tipe tanah tidak berpasir atau tanah lempung," katanya.

Meski demikian, lanjut dia, penerapan sistem ini diseluruh ruas jalan provinsi di Jawa Tengah tetap harus menunggu hasil pengujian.

"Masih kita tunggu dampak dari dua musim di wilayah ini terhadap jalan dengan sistem Geogrit," katanya.

Untuk saat ini, kata dia, uji coba akan dilakukan terhadap sisi luar ruas jalan yang sudah ada, sehingga bagian tepinya akan diperkuat.

Sementara itu, penemu sistem Geogrit Yahya A.Hamid, dalam presentasi tentang sistem ini di Dinas Bina Marga Jawa Tengah, di Semarang, Rabu, mengatakan, teknologi ini menawarkan jalan yang berkualitas dengan biaya yang lebih rendah.

Menurut dia, teknologi ini hanya membutuhkan tanah yang ada di sekitar kawasan yang akan dijadikan sebagai jalan raya.

"Ada dua jenis bahan yang digunakan untuk membangun jalan berbasis Geogrit, yakni yang disebut dengan zat BP2G dan BP3G," kata juru bicara PT Air Mas Asia yang juga merupakan pemasar sistem ini di Indonesia.

Ia menjelaskan, campuran bahan kimia ini akan mengeraskan tanah yang akan dijadikan sebagai jalan raya.

Untuk Pulau Jawa, kata dia, uji coba sistem baru ini baru dilakukan di Jawa Tengah.

Adapun daerah lain di Indonesia yang sudah mengembangkan antara lain Kendari dan Denpasar.